Modal Cabai 1 Kg, Susilaningsih Sukses Jual Sambal Hingga Amerika Serikat

Article wira | March 2018

Tidak ada usaha yang sia-sia. Ungkapan itu  pas bagi bisnis sambal milik Susilaningsih, warga Tenggilis Timur VI/DDI Surabaya ini. Meski hanya sambal, bisnis perempuan paruh baya ini sudah tembus pasar lokal maupun insternasional, Amerika Serikat.

Susilaningsih yang pensiunan Pemprov Jatim awalnya hanya bermodal 1 kilogram cabai. Dia mulai bisnisnya tahun 2011 silam. "Saya hobi masak, tapi nggak ada lagi yang makan masakan saya karena anak-anak sudah berkeluarga semua. Akhirnya saya masak untuk dijual," kisahnya, Selasa (19/12) saat ditemui Surya.co.id di acara Mlaku - Mlaku Nang Tunjungan.

Susilaningsih melanjutkan, kunci sukses jualan sambel miliknya adalah terus berinovasi. Perempuan paro baya ini bahkan mengikuti kegiatan Pahlawan Ekonomi, yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya.

"Waktu bergabung Pahlawan Ekonomi itu saya banyak belajar tentang bisnis kuliner. Mulai rasa sampai kemasan yang disukai pasar seperti apa. Sampai tahun 2013, saya dapat juara 2 Pahlawan Ekonomi," katanya semangat.

Perempuan berkerudung ini mengatakan, dari bisnis sambalnya dia pun menjuarai beberapa kali kompetisi kuliner. Di antaranya Pahlawan Ekonomi juara 2, tahun 2013, Juara 1 Pangan Award kementrian Perdagangan tahun 2014, dan masih banyak lagi.

Dari sanalah sambal Susilaningsih terkenal. Pihak Pemprov membantunya ekspor hingga Virginia, Amerika Serikat.

"Awalnya ya jual dari tetangga ke tetangga, lalu lama kelamaan pasar tambah banyak ngurus izin Bpom, Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga, izin halal MUI semuanya pelan-pelan sambil jalan," katanya.

Kini Susilaningsih sudah memperkerjakan lebih dari 10 orang karyawan. Setiap hari dirinya memproduksi sambal, dengan bahan baku 50 kilogram cabai, 50 kilogram bawang merah, 50 kilogram minyak nabati dan ikan.

Marak penjual sambal siap saji, Susilaningsih tak takut ada saingan. Ini lantaran dia punya komposisi yang lain dari pada yang lain.

"Saya nggak pakai MSG dan warna sambal asli. Untuk lombok, kami memilih lombok kecil atau jenis patalan atau cangkring. Lombok jenis ini pedas sekali, jadi sambal kami tanpa pemedas tambahan," jelasnya.

Merek Sambal Dede Satoe, milik Susilaningsih kini terus berkembang hingga 20 menu sambal. Mulai Sambel Surabaya Ekstra Pedas, hingga berkembang menjadi bermacam sambal ikan.

Seperti Sambal Ikan Roa, Sambal Ikan Klotok, Sambal Ikan Peda, Sambal Ikan Teri dan masih banyak lagi.

Susilaningsih titip pesan kepada pemilik UMKM pemula, agar terus mecoba.

"UKM baru boleh meniru, amati tiru dan kembangkan. Jangan meniru atau jiplak saja apalagi usaha sambal seperti saya ini luar biasa banyaknya, kalau tidak ada ciri khas rasa otomatis tidak laku. Lakukan inovasi. Kalau berhasil, tidak hanya membawa manfaat untuk kita pribadi, tapi bisa membuka lapangan kerja!" tegasnya.

Susilaningsih menunjukkan sambal buatannya yang telah dijual hingga ke Amerika Serikat.

Marak penjual sambal siap saji, Susilaningsih tak takut ada saingan. Ini lantaran dia punya komposisi yang lain dari pada yang lain.

"Saya nggak pakai MSG dan warna sambal asli. Untuk lombok, kami memilih lombok kecil atau jenis patalan atau cangkring. Lombok jenis ini pedas sekali, jadi sambal kami tanpa pemedas tambahan," jelasnya.

Merek Sambal Dede Satoe, milik Susilaningsih kini terus berkembang hingga 20 menu sambal. Mulai Sambel Surabaya Ekstra Pedas, hingga berkembang menjadi bermacam sambal ikan.

Seperti Sambal Ikan Roa, Sambal Ikan Klotok, Sambal Ikan Peda, Sambal Ikan Teri dan masih banyak lagi.

Susilaningsih titip pesan kepada pemilik UMKM pemula, agar terus mecoba.

"UKM baru boleh meniru, amati tiru dan kembangkan. Jangan meniru atau jiplak saja apalagi usaha sambal seperti saya ini luar biasa banyaknya, kalau tidak ada ciri khas rasa otomatis tidak laku. Lakukan inovasi. Kalau berhasil, tidak hanya membawa manfaat untuk kita pribadi, tapi bisa membuka lapangan kerja!" tegasnya.  




Source: surya.co.id