Makan Pedas, Siapa Takut? Asalkan....

Article rani | December 2017

Makan tanpa sedikit rasa pedas dari cabai memang terasa kurang nikmat. Gairah makan memang lebih meningkat berkat rasa pedas. Tapi, benarkah rasa pedas dari cabai tidak baik bagi kesehatan?

Menurut dr Hendarto Natadidjaja, MARS, SpPD,  dari RS Royal Taruma, Jakarta, organ lambung setiap orang (individu) tidaklah sama, baik kapasitas maupun daya tahannya. Pengaruh lingkungan, kebiasaan, dan kebudayaan juga memengaruhi kemampuan lambung menerima rangsang.

Di daerah Sumatera Barat, misalnya, menyantap makanan pedas sudah menjadi kebiasaan. Kalau tidak ada cabainya, malah tidak bisa makan dan serasa ada yang hilang.

“Tapi, coba tawarkan masakan Padang yang pedas itu kepada orang Eropa, yang biasanya makan minum susu dan mentega, pasti mereka akan langsung mulas dan buang air besar. Ini karena lambung orang Eropa tidak terbiasa menerima makanan pedas,” lanjutnya.

Penyebab penyakit lambung sebenarnya multifaktor. Artinya, makan pedas hanyalah salah satu kemungkinan penyebab sakit lambung. Biasanya, pada saat sehat, makan pedas berakibat buang air besar (diare) atau sakit perut (mulas). Tapi, jika ada faktor-faktor lain, semisal stres, peminum kopi, makan tidak teratur, kurang tidur, bisa jadi makan cabai berakibat sakit lambung, maag misalnya.

“Enggak bisa kita simpulkan cabai yang menjadi penyebab. Jadi, kalau sudah punya penyakit di lambung, makan cabai bisa memperberat. Penderita sakit maag  sebaiknya jangan makan cabai atau minum kopi,” tutur Hendarto.

Asam lambung
Fungsi rasa pedas sebetulnya lebih sebagai penambah rasa. Bagi sebagian orang, menikmati makanan tanpa cabai atau sambal rasanya kurang enak. Apalagi bagi mereka yang memang doyan cabai, nafsu makannya bisa jadi berlipat.

Cabai juga mengandung banyak zat yang berguna bagi tubuh, seperti zat capsaicin yang memiliki kegunaan mengurangi rasa sakit (antisakit) akibat nyeri. “Ada kan, salep untuk nyeri tulang yang mengandung capsaicin. Nyeri menjadi reda kalau digosok dengan balsem yang mengandung capsaicin. Cabai juga mengandung vitamin C dan serat,” lanjut Hendarto.

Pencernaan memiliki kemampuan menangkap rangsangan dari makanan yang masuk. Rangsangan itu kemudian diterjemahkan oleh otak sebagai rasa pedas, manis, asam, dan sebagainya. Rasa pedas juga akan merangsang asam lambung. Orang yang sudah punya penyakit di lambung, misal lambungnya luka, sebaiknya menghindari makanan pedas karena akan menambah berat sakitnya.

Tapi, pada orang yang sehat, makan pedas boleh-boleh saja. “Paling kalau tidak kuat jadi sering buang air besar, atau kadang-kadang saja buang air besar, atau malah tidak berakibat sering buang air besar. Ini sangat individual, tergantung banyak hal,” kata Hendarto.

Tergantung kondisi
Lantas bagaimana jika seseorang makan cabai utuh, tanpa tambahan, atau dicampurkan ke dalam masakan? “Cabainya dimasak sebagai apa? Satu cabai yang ditelan begitu saja tentu berbeda efeknya dibandingkan satu cabai yang dimasak atau dicampur makanan lain. Cabai di dalam makanan akan membuat penyerapan berbeda karena proses perangsangan akan dinetralisasi,” tambahnya.

Makanan berupa­ ke­ripik super pedas­ yang memiliki ting­kat kepedasan tertentu, sebetulnya juga sudah mengurangi rangsangan rasa pedas daripada cabai yang langsung dimakan begitu saja. Tetapi, tingkat kepedasan ini tetap berbeda bagi tiap individu. Bisa saja ada orang yang menganggap keripik level A sudah sangat pedas. Tapi, ada orang lain yang menganggap level B tidak terasa pedas padahal dibuat lebih pedas oleh sang produsen. 

Demikianlah penjelasan tentang bebasnya memakan makanan yang pedas asalkan terukur, apabila ada indikasi sakit perut ya jangan dipaksa memakannya segera menyudahi dan meminum air putih sebanyak-banyaknya.



(Sumber: kompas.com )